Pengumpulan, Pembulatan, dan Pemeriksaan Terhadap Data
Materi Statistika — Lengkap dengan Contoh Soal & Latihan
1. Pengumpulan Data
A. Pengertian Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah proses mengumpulkan informasi atau fakta dari suatu objek penelitian secara sistematis untuk keperluan analisis. Data yang dikumpulkan harus akurat, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Data dalam statistika dibedakan menjadi:
- Data Primer — data yang diperoleh langsung dari sumbernya (wawancara, observasi, kuesioner, eksperimen).
- Data Sekunder — data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada (buku, jurnal, laporan BPS, internet).
B. Metode Pengumpulan Data
| No | Metode | Keterangan | Contoh |
|---|---|---|---|
| 1 | Wawancara | Tanya jawab langsung dengan responden | Menanyakan pendapat siswa tentang menu kantin |
| 2 | Angket / Kuesioner | Daftar pertanyaan tertulis untuk diisi responden | Formulir survei kepuasan pelanggan |
| 3 | Observasi | Pengamatan langsung terhadap objek | Mengamati jumlah kendaraan melintas di jalan |
| 4 | Eksperimen | Percobaan untuk mendapatkan data | Mengukur pertumbuhan tanaman dengan pupuk berbeda |
| 5 | Studi Dokumentasi | Mengambil data dari dokumen yang ada | Mengambil data nilai siswa dari rapor |
C. Jenis Data
| Jenis | Penjelasan | Contoh |
|---|---|---|
| Data Kualitatif | Data berupa kategori/sifat, tidak berupa angka | Warna favorit, jenis kelamin |
| Data Kuantitatif | Data berupa angka hasil pengukuran/pencacahan | Tinggi badan, jumlah siswa |
| Data Diskrit | Data kuantitatif berupa bilangan bulat (hasil mencacah) | Jumlah anak: 1, 2, 3 |
| Data Kontinu | Data kuantitatif berupa bilangan real (hasil mengukur) | Berat badan: 45,5 kg; 50,3 kg |
D. Langkah-Langkah Pengumpulan Data
- Menentukan tujuan pengumpulan data
- Menentukan populasi dan sampel
- Memilih metode pengumpulan data yang tepat
- Menyusun instrumen (kuesioner/lembar observasi)
- Melaksanakan pengumpulan data
- Memeriksa dan mengolah data yang terkumpul
Amatilah data nilai ulangan Matematika 10 siswa berikut:
75, 80, 65, 90, 85, 70, 95, 60, 88, 72
Perhatikan: Bagaimana data tersebut diperoleh? Apakah termasuk data primer atau sekunder? Apakah termasuk data kualitatif atau kuantitatif?
Berdasarkan pengamatanmu, buatlah pertanyaan:
1. Metode apa yang paling tepat untuk mengumpulkan data nilai siswa?
2. Mengapa data tersebut termasuk data kuantitatif kontinu atau diskrit?
3. Apa perbedaan menggunakan wawancara dan kuesioner untuk mengumpulkan data ini?
Dari data nilai di atas:
— Data tersebut merupakan data primer jika guru langsung mengambilnya dari hasil ulangan, dan data sekunder jika diambil dari rapor.
— Termasuk data kuantitatif diskrit karena berupa bilangan bulat hasil penilaian.
— Metode pengumpulan yang paling tepat: studi dokumentasi (mengambil dari daftar nilai).
Cobalah kumpulkan data tinggi badan 10 teman sekelasmu menggunakan metode observasi (pengukuran langsung). Catatlah data tersebut dalam tabel berikut:
| No | Nama | Tinggi Badan (cm) |
|---|---|---|
| 1 | … | … |
| 2 | … | … |
| … | … | … |
Presentasikan hasil pengumpulan datamu di depan kelas. Jelaskan:
1. Metode yang kamu gunakan
2. Jenis data yang kamu kumpulkan
3. Kendala yang kamu hadapi selama pengumpulan data
4. Apakah datamu termasuk data primer atau sekunder? Mengapa?
Contoh Soal — Pengumpulan Data
Mudah
Berdasarkan sumber perolehannya, data dibagi menjadi:
1. Data Primer — data yang dikumpulkan langsung dari sumber pertama (contoh: wawancara, eksperimen).
2. Data Sekunder — data yang diperoleh dari sumber yang sudah ada (contoh: buku, laporan BPS).
Data jumlah siswa termasuk data kuantitatif diskrit karena:
— Berupa angka (kuantitatif)
— Diperoleh dari hasil mencacah (diskrit), yaitu bilangan bulat: 30, 32, 28, dst.
— Tidak mungkin ada jumlah siswa 30,5 orang.
Metode yang paling tepat adalah angket/kuesioner karena:
— Bisa menjangkau banyak siswa sekaligus
— Siswa dapat memilih dari pilihan yang disediakan
— Lebih efisien dibanding wawancara satu per satu
— Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif (jenis makanan).
“Warna mata” termasuk data kualitatif karena:
— Berupa kategori/sifat (hitam, cokelat, biru), bukan angka
— Tidak dapat dilakukan operasi matematika pada data tersebut
— Merupakan data nominal (hanya untuk pengelompokan).
Termasuk data sekunder karena:
— Data tidak diperoleh langsung dari proses ulangan
— Data diambil dari dokumen (rapor) yang sudah ada sebelumnya
— Metode yang digunakan adalah studi dokumentasi.
Sedang
— Populasi: Seluruh 500 KK di desa tersebut
— Sampel: 50 KK yang diwawancarai
— Metode: Wawancara (tanya jawab langsung)
— Jenis data: Data primer (diperoleh langsung dari responden)
— Data penghasilan termasuk data kuantitatif kontinu.
— Jenis data: Kuantitatif kontinu karena diperoleh dari hasil mengukur dan bisa bernilai desimal (155,5 cm, dst.)
— Metode: Observasi/pengukuran langsung menggunakan alat ukur (meteran/stadiometer)
— Termasuk data primer karena dikumpulkan langsung.
| Aspek | Wawancara | Angket |
|---|---|---|
| Cara | Tanya jawab langsung | Pertanyaan tertulis |
| Jumlah responden | Sedikit (terbatas) | Banyak sekaligus |
| Kedalaman | Mendalam, bisa digali lebih lanjut | Terbatas pada pertanyaan yang ada |
| Waktu | Lebih lama | Lebih cepat |
— Angket cocok untuk responden banyak dan pertanyaan terstruktur.
— Jenis data: Kuantitatif diskrit (jumlah penduduk berupa bilangan bulat)
— Sumber: Data sekunder bagi yang mengambil dari laporan BPS; data primer bagi BPS yang melakukan sensus langsung
— Metode: BPS menggunakan sensus (pencacahan lengkap) dan survei. Jika kita mengambil dari publikasi BPS, metodenya adalah studi dokumentasi.
Langkah-langkah:
1. Tujuan: Mengetahui pengaruh jenis pupuk terhadap pertumbuhan tanaman
2. Populasi & Sampel: Misalnya 30 tanaman kacang hijau dibagi 3 kelompok (masing-masing 10)
3. Metode: Eksperimen
4. Instrumen: Penggaris untuk mengukur tinggi tanaman, tabel pencatatan
5. Pelaksanaan: Kelompok A diberi pupuk kompos, B pupuk NPK, C tanpa pupuk. Ukur tinggi setiap minggu selama 4 minggu
6. Data: Data kuantitatif kontinu (tinggi dalam cm), data primer
Sulit
Rancangan lengkap:
1. Populasi: 10.000 pelanggan
2. Sampel: Menggunakan rumus Slovin dengan e = 5%:
4. Metode: Angket online (Google Form) — efisien untuk jumlah besar
5. Instrumen: Kuesioner dengan skala Likert 1-5
6. Jenis data: Campuran kualitatif (saran) dan kuantitatif (skor kepuasan)
7. Validasi: Uji coba instrumen pada 30 pelanggan terlebih dahulu.
| Aspek | Data Primer | Data Sekunder |
|---|---|---|
| Akurasi | Tinggi (dikumpulkan sesuai kebutuhan) | Belum tentu sesuai kebutuhan penelitian |
| Biaya | Mahal (perlu turun lapangan) | Murah (data sudah tersedia) |
| Waktu | Lama | Cepat |
| Contoh | Wawancara warga tentang riwayat penyakit | Data Puskesmas tentang angka penyakit |
| Kendala di pedesaan | Akses sulit, budaya tertutup | Data mungkin tidak lengkap/tidak ter-update |
Kemungkinan penyebab:
1. Bias responden: Dalam wawancara, responden mungkin menjawab berbeda dari angket (keinginan sosial)
2. Bias pengamat: Observasi bisa dipengaruhi subjektivitas peneliti
3. Perbedaan sampel: Masing-masing metode mungkin menjangkau responden berbeda
4. Waktu pengumpulan berbeda: Kondisi bisa berubah antar waktu pengumpulan
5. Instrumen tidak terstandar: Pertanyaan yang berbeda menghasilkan jawaban berbeda
Solusi:
— Gunakan triangulasi (membandingkan data dari berbagai sumber untuk validasi)
— Standarkan instrumen pengumpulan data
— Gunakan sampel yang sama untuk setiap metode
— Lakukan pengumpulan data pada periode waktu yang sama.
Rancangan:
1. Variabel: Waktu belajar (jam/hari) = variabel bebas; Nilai ujian = variabel terikat
2. Populasi: 400 siswa kelas XII
3. Sampel: ≈ 200 siswa (proportional stratified sampling per kelas)
4. Metode campuran:
— Angket: menanyakan rata-rata waktu belajar harian
— Dokumentasi: mengambil nilai ujian dari arsip sekolah
5. Instrumen: Kuesioner terstruktur + lembar pencatatan nilai
6. Data: Dua variabel kuantitatif kontinu → bisa dianalisis korelasinya
7. Tabel data:
| Siswa | Waktu Belajar (jam) | Nilai Ujian |
|---|---|---|
| 1 | 2,5 | 78 |
| 2 | 4,0 | 85 |
| … | … | … |
Validitas = instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur.
Reliabilitas = instrumen menghasilkan data konsisten jika diulang.
Pentingnya:
— Jika tidak valid: data yang dikumpulkan tidak menjawab pertanyaan penelitian (sia-sia)
— Jika tidak reliabel: hasil berubah-ubah setiap kali digunakan (tidak bisa dipercaya)
Contoh valid tapi tidak reliabel:
Sebuah timbangan badan mengukur berat (valid = mengukur hal yang benar), tetapi hasilnya berubah-ubah setiap kali ditimbang karena per-nya sudah rusak: kadang menunjukkan 50 kg, kadang 52 kg, kadang 48 kg. Timbangan ini valid (mengukur berat badan) tetapi tidak reliabel (hasil tidak konsisten).
Latihan Soal — Pengumpulan Data
Mudah
Sedang
Sulit
2. Pembulatan Data
A. Pengertian Pembulatan
Pembulatan data adalah proses menyederhanakan angka menjadi nilai yang lebih sederhana namun masih mendekati nilai aslinya. Pembulatan diperlukan agar data lebih mudah dibaca, diolah, dan disajikan.
B. Aturan Pembulatan
- Jika angka yang dibulatkan kurang dari 5 → dibulatkan ke bawah (dihilangkan)
- Jika angka yang dibulatkan lebih dari 5 → dibulatkan ke atas (ditambah 1)
- Jika angka yang dibulatkan tepat 5:
a. Jika angka di depannya ganjil → dibulatkan ke atas
b. Jika angka di depannya genap → dibulatkan ke bawah (tetap)
(Aturan ini disebut “Pembulatan Banker” atau “Pembulatan ke Genap Terdekat”)
C. Jenis-Jenis Pembulatan
1. Pembulatan ke Satuan Terdekat
Lihat angka di belakang koma (persepuluhan).
| Bilangan | Angka Penentu | Hasil Pembulatan | Alasan |
|---|---|---|---|
| 3,2 | 2 (< 5) | 3 | Dibulatkan ke bawah |
| 3,7 | 7 (> 5) | 4 | Dibulatkan ke atas |
| 4,5 | 5 (depan: 4 genap) | 4 | Depan genap → tetap |
| 3,5 | 5 (depan: 3 ganjil) | 4 | Depan ganjil → ke atas |
| 6,50 | 5 (depan: 6 genap) | 6 | Depan genap → tetap |
| 7,50 | 5 (depan: 7 ganjil) | 8 | Depan ganjil → ke atas |
2. Pembulatan ke Satu Desimal
Lihat angka di tempat perseratusan (2 angka di belakang koma).
| Bilangan | Angka Penentu | Hasil |
|---|---|---|
| 3,42 | 2 (< 5) | 3,4 |
| 3,47 | 7 (> 5) | 3,5 |
| 3,45 | 5 (depan: 4 genap) | 3,4 |
| 3,35 | 5 (depan: 3 ganjil) | 3,4 |
3. Pembulatan ke Puluhan Terdekat
Lihat angka satuan.
| Bilangan | Angka Penentu | Hasil |
|---|---|---|
| 123 | 3 (< 5) | 120 |
| 127 | 7 (> 5) | 130 |
| 125 | 5 (depan: 2 genap) | 120 |
| 135 | 5 (depan: 3 ganjil) | 140 |
4. Pembulatan ke Ratusan Terdekat
Lihat angka puluhan.
| Bilangan | Angka Penentu | Hasil |
|---|---|---|
| 1.230 | 3 (< 5) | 1.200 |
| 1.270 | 7 (> 5) | 1.300 |
| 1.250 | 5 (depan: 2 genap) | 1.200 |
| 1.350 | 5 (depan: 3 ganjil) | 1.400 |
D. Angka Penting (Signifikan)
Dalam statistika, pembulatan juga berkaitan dengan angka penting:
- Semua angka bukan nol adalah angka penting: 1234 → 4 angka penting
- Nol di antara angka bukan nol adalah penting: 1,003 → 4 angka penting
- Nol di depan bukan angka penting: 0,0025 → 2 angka penting
- Nol di belakang setelah koma adalah penting: 2,50 → 3 angka penting
Perhatikan bilangan-bilangan berikut dan hasil pembulatannya:
| Bilangan | Pembulatan ke Satuan |
|---|---|
| 12,3 | 12 |
| 12,7 | 13 |
| 12,5 | 12 |
| 13,5 | 14 |
1. Mengapa ada aturan khusus ketika angka penentu tepat 5?
2. Apa yang terjadi jika kita selalu membulatkan angka 5 ke atas?
3. Kapan pembulatan digunakan dalam kehidupan sehari-hari?
— Jika angka 5 selalu dibulatkan ke atas, maka akan terjadi bias ke atas (hasil rata-rata menjadi lebih besar dari seharusnya).
— Aturan “bulatkan ke genap terdekat” membuat 50% angka 5 ke atas dan 50% ke bawah, sehingga rata-rata tetap seimbang.
— Contoh: Jika kita punya data 2,5 dan 3,5:
Cara biasa: 3 + 4 = 7 (bias naik)
Cara banker: 2 + 4 = 6 (lebih seimbang, rata-rata asli = 3)
Bulatkan bilangan-bilangan berikut ke satuan terdekat:
a) 25,4 b) 25,6 c) 25,5 d) 24,5 e) 36,50 f) 45,501
Kemudian bulatkan ke satu desimal:
g) 3,141 h) 7,865 i) 2,550 j) 8,450
Diskusikan dengan temanmu: Dalam situasi apa saja pembulatan bisa menyebabkan kesalahan yang signifikan? Berikan contoh nyata dan presentasikan hasilnya!
Contoh Soal — Pembulatan Data
Mudah
Angka penentu = 3 (kurang dari 5)
Maka 7,3 dibulatkan ke bawah → 7
Angka penentu = 8 (lebih dari 5)
Maka 12,8 dibulatkan ke atas → 13
Angka penentu = 5, angka di depannya = 6 (genap)
Aturan: depan genap → dibulatkan ke bawah (tetap)
Maka 6,5 → 6
Angka penentu = 5, angka di depannya = 9 (ganjil)
Aturan: depan ganjil → dibulatkan ke atas
Maka 9,5 → 10
Angka satuan = 7 (lebih dari 5)
Maka 247 dibulatkan ke atas → 250
Sedang
Angka penentu = 5 (posisi perseratusan), angka di depannya = 4 (genap)
Setelah angka 5 tidak ada angka lain selain 0 → tepat 5
Depan genap → tetap → 3,450 ≈ 3,4
Angka penentu = 5, tetapi di belakang 5 masih ada angka 1
Artinya nilai sebenarnya > x,x5 (bukan tepat 5)
Maka dibulatkan ke atas → 3,451 ≈ 3,5
Catatan: Aturan “genap/ganjil” hanya berlaku jika tepat 5 (tidak ada angka setelahnya atau hanya nol)
Angka puluhan = 5, angka ratusan di depannya = 6 (genap)
Setelah 5 hanya ada 0 → tepat 5
Depan genap → tetap → 1.650 ≈ 1.600
0,004070
— Nol di depan (0,00…) bukan angka penting
— Angka penting dimulai dari 4: 4, 0, 7, 0
— Nol di antara (antara 4 dan 7) = penting
— Nol di belakang setelah koma (setelah 7) = penting
Jadi ada 4 angka penting
| Data Asli | Angka Penentu | Analisis | Hasil |
|---|---|---|---|
| 45,34 | 4 (< 5) | Bulatkan ke bawah | 45,3 |
| 50,78 | 8 (> 5) | Bulatkan ke atas | 50,8 |
| 62,15 | 5, depan 1 (ganjil) | Ke atas | 62,2 |
| 48,50 | Tepat 5, depan 8… → lihat posisi: 48,50 ke satuan? Tidak, ke 1 desimal: angka penentu = 0 | 0 < 5 | 48,5 |
| 55,45 | 5, depan 4 (genap), tepat 5 | Tetap | 55,4 |
Sulit
Langkah 1: Jumlahkan semua data
12,345 + 15,678 + 18,925 + 11,550 + 14,455 = 72,953
Langkah 2: Hitung rata-rata
14,5906 → angka penentu di posisi ke-3 = 0 (< 5)
Hasil: 14,59
Contoh: Bulatkan 2,4489 ke satuan terdekat.
Cara SALAH (pembulatan berulang):
2,4489 → 2,449 → 2,45 → 2,5 → 3 ❌
Setiap langkah menambah bias!
Cara BENAR (langsung ke satuan):
2,4489 → angka penentu = 4 (< 5) → 2 ✓
Kesimpulan: Pembulatan harus dilakukan langsung ke tempat yang dituju, bukan bertahap. Pembulatan bertahap menyebabkan “creeping error” di mana kesalahan menumpuk.
Pembulatan ke 2 desimal:
| Data Asli | Penentu | Analisis | Hasil |
|---|---|---|---|
| 10,235 | 5, dpn 3 ganjil | Ke atas | 10,24 |
| 10,245 | 5, dpn 4 genap | Tetap | 10,24 |
| 10,255 | 5, dpn 5 ganjil | Ke atas | 10,26 |
| 10,265 | 5, dpn 6 genap | Tetap | 10,26 |
| 10,275 | 5, dpn 7 ganjil | Ke atas | 10,28 |
| 10,285 | 5, dpn 8 genap | Tetap | 10,28 |
| 10,295 | 5, dpn 9 ganjil | Ke atas | 10,30 |
| 10,305 | 5, dpn 0 genap | Tetap | 10,30 |
Rata-rata data bulat: (10,24+10,24+10,26+10,26+10,28+10,28+10,30+10,30) ÷ 8 = 82,16 ÷ 8 = 10,270
Kesimpulan: Dengan aturan pembulatan banker, rata-rata data bulat tetap sama! Ini membuktikan keunggulan aturan “genap terdekat”.
Pembulatan ke ratusan (dari ribuan):
— 1.234,567 → lihat puluhan = 3 (< 5) → 1.200
— 1.345,891 → lihat puluhan = 4 (< 5) → 1.300
— 1.456,234 → lihat puluhan = 5, depan 4 genap → 1.400
— 1.567,123 → lihat puluhan = 6 (> 5) → 1.600
— 1.678,456 → lihat puluhan = 7 (> 5) → 1.700
Rata-rata pertumbuhan per tahun (data bulat):
Pertumbuhan: 100, 100, 200, 100
Rata-rata = (100+100+200+100) ÷ 4 = 125 ribu/tahun
Pembulatan 2,8500 ke satuan:
Angka penentu (persepuluhan) = 8 (> 5) → dibulatkan ke atas → 3
Pembulatan 2,85 ke satuan:
Angka penentu (persepuluhan) = 8 (> 5) → dibulatkan ke atas → 3
Sebenarnya dalam konteks pembulatan ke satuan, keduanya sama karena angka penentu (8) sudah > 5.
Perbedaan muncul saat membulatkan ke 1 desimal:
— 2,85 → angka penentu 5, depan 8 genap → 2,8
— 2,8500 → tepat 5 juga (hanya nol setelahnya) → depan 8 genap → 2,8
— 2,8501 → lebih dari tepat 5 → ke atas → 2,9
Kesimpulan: 2,8500 dan 2,85 diperlakukan sama (keduanya tepat 5). Yang berbeda adalah 2,8501 karena ada angka setelah 5 yang bukan nol.
Latihan Soal — Pembulatan Data
Mudah
Sedang
Sulit
3. Pemeriksaan Terhadap Data
A. Pengertian Pemeriksaan Data
Pemeriksaan data (data checking/data validation) adalah proses memeriksa kebenaran, kelengkapan, dan konsistensi data yang telah dikumpulkan sebelum data tersebut diolah dan dianalisis.
B. Tujuan Pemeriksaan Data
- Memastikan data yang dikumpulkan lengkap (tidak ada yang hilang)
- Memastikan data benar dan akurat (tidak ada kesalahan pencatatan)
- Memastikan data konsisten (tidak bertentangan satu sama lain)
- Mengidentifikasi data pencilan (outlier) yang mungkin merupakan kesalahan
- Memastikan data sesuai format yang diharapkan
C. Aspek-Aspek Pemeriksaan Data
1. Pemeriksaan Kelengkapan Data
Memastikan tidak ada data yang kosong atau hilang (missing data).
| No | Nama | Nilai UTS | Nilai UAS | Status |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Andi | 75 | 80 | ✓ Lengkap |
| 2 | Budi | 82 | — | ✗ Tidak lengkap |
| 3 | Citra | — | 78 | ✗ Tidak lengkap |
| 4 | Dina | 90 | 88 | ✓ Lengkap |
2. Pemeriksaan Kebenaran/Akurasi Data
Memastikan data masuk akal dan sesuai dengan kenyataan.
— Tinggi badan siswa SMA: 250 cm (tidak wajar, mungkin salah catat → harusnya 150 cm)
— Nilai ujian: 120 (jika skala 0-100, ini tidak mungkin)
— Usia siswa SMA: 5 tahun (tidak masuk akal)
3. Pemeriksaan Konsistensi Data
Memastikan data tidak bertentangan satu sama lain.
— Seorang responden mengisi umur “17 tahun” tetapi tahun lahir “1990” (inkonsisten jika survei tahun 2024)
— Data menyatakan “tidak pernah olahraga” tetapi frekuensi olahraga tertulis “3x seminggu”
4. Pemeriksaan Data Pencilan (Outlier)
Outlier adalah data yang nilainya jauh berbeda dari data lainnya. Outlier bisa merupakan data benar yang unik, atau bisa merupakan kesalahan.
Cara mendeteksi outlier:
a. Metode IQR (Interquartile Range):
Batas bawah = Q₁ − 1,5 × IQR
Batas atas = Q₃ + 1,5 × IQR
Data di luar batas ini → outlier
b. Metode Z-Score:
Jika |z| > 2 atau > 3 → data dianggap outlier
Keterangan: x = data, x̄ = rata-rata, s = simpangan baku
5. Pemeriksaan Format Data
Memastikan data sesuai tipe yang diharapkan:
| Field | Format yang Benar | Contoh Salah |
|---|---|---|
| Tanggal lahir | DD/MM/YYYY | “kemarin”, “1990” |
| Nomor telepon | Angka, 10-13 digit | “delapan”, “08xx” |
| Nilai | Angka 0-100 | “bagus”, “-5” |
D. Langkah-Langkah Pemeriksaan Data
- Periksa kelengkapan — cari data yang kosong/hilang
- Periksa kewajaran — cari data yang nilainya tidak masuk akal
- Periksa konsistensi — cari data yang bertentangan
- Deteksi outlier — gunakan metode IQR atau z-score
- Periksa format — pastikan tipe data sesuai
- Tindak lanjut — perbaiki, konfirmasi ulang, atau hapus data bermasalah
E. Penanganan Data Bermasalah
| Masalah | Penanganan |
|---|---|
| Data hilang (missing) | Kumpulkan ulang, atau gunakan rata-rata/median sebagai pengganti |
| Data salah catat | Konfirmasi ulang ke sumber, perbaiki |
| Data inkonsisten | Telusuri mana yang benar, perbaiki yang salah |
| Outlier (kesalahan) | Hapus atau ganti dengan nilai wajar |
| Outlier (data benar) | Pertahankan, tetapi analisis pengaruhnya |
Perhatikan data nilai ujian 12 siswa berikut:
78, 82, 75, 90, 15, 88, 79, 85, 260, 81, — , 77
Amati: Adakah data yang mencurigakan? Adakah data yang hilang?
1. Mengapa nilai 15 dan 260 terlihat mencurigakan?
2. Bagaimana cara menentukan apakah nilai 15 adalah data benar atau kesalahan?
3. Apa yang harus dilakukan terhadap data yang hilang (tanda “—”)?
Dari data di atas:
— Nilai 260 → tidak mungkin jika skala 0-100. Pasti kesalahan (mungkin harusnya 26 atau 60).
— Nilai 15 → mungkin benar (siswa tidak bisa mengerjakan) atau salah catat. Perlu dikonfirmasi.
— Tanda “—” → data hilang, perlu dicari atau diatasi.
Deteksi outlier dengan IQR (tanpa data bermasalah: 75,77,78,79,81,82,85,88,90):
Q₁ = 78, Q₃ = 87 → IQR = 9
Batas bawah = 78 − 13,5 = 64,5
Batas atas = 87 + 13,5 = 100,5
→ Nilai 15 < 64,5 → outlier; Nilai 260 > 100,5 → outlier
Data tinggi badan (cm) 10 siswa: 155, 160, 158, 310, 162, 157, —, 161, 159, 163
1. Identifikasi data yang hilang dan data yang mencurigakan
2. Hitung Q₁, Q₃, dan IQR dari data yang valid
3. Tentukan batas outlier dan identifikasi outlier
4. Berikan rekomendasi penanganan untuk setiap masalah yang ditemukan
Buatlah laporan singkat tentang hasil pemeriksaan data di atas. Sertakan:
1. Jenis masalah yang ditemukan
2. Metode yang digunakan untuk mendeteksi
3. Rekomendasi tindak lanjut
Presentasikan di depan kelas!
Contoh Soal — Pemeriksaan Data
Mudah
1. Memastikan data lengkap (tidak ada yang kosong)
2. Memastikan data benar dan akurat (tidak ada kesalahan catat)
3. Memastikan data konsisten (tidak bertentangan satu sama lain)
Data 500 mencurigakan karena:
— Jauh lebih besar dari data lainnya (70-80)
— Jika ini nilai ujian (0-100), maka 500 tidak mungkin
— Kemungkinan salah catat (mungkin harusnya 50)
Outlier adalah data yang nilainya jauh berbeda (sangat besar atau sangat kecil) dibandingkan data lainnya dalam kumpulan data yang sama.
— Outlier bisa berupa kesalahan pencatatan
— Bisa juga data benar yang memang unik/ekstrem
— Perlu diperiksa kebenarannya sebelum diputuskan dipertahankan atau dihapus
| Nama | Umur | TB(cm) | BB(kg) |
|---|---|---|---|
| Ali | 15 | 165 | 55 |
| Bela | 16 | — | 50 |
| Cici | — | 158 | 48 |
Data yang hilang (missing):
1. Bela — tinggi badan tidak tercatat
2. Cici — umur tidak tercatat
Tindakan: Konfirmasi ulang ke responden, atau jika tidak bisa: gunakan rata-rata data yang ada sebagai estimasi.
Masalah: Inkonsistensi data
— Jika tahun survei 2024 dan umur 16 tahun, maka tahun lahir seharusnya ≈ 2008
— Tahun lahir 2015 berarti umur ≈ 9 tahun, bukan 16 tahun
— Siswa kelas 10 tidak mungkin berumur 9 tahun
Tindakan: Konfirmasi ulang ke siswa tersebut.
Sedang
Langkah 1: Urutkan data
12, 65, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74, 75
Langkah 2: Tentukan Q₁ dan Q₃
— Data = 10, median antara data ke-5 dan ke-6 = (70+71)/2 = 70,5
— Q₁ = median data bawah (12,65,68,69,70) = 68
— Q₃ = median data atas (71,72,73,74,75) = 73
Langkah 3: Hitung IQR
IQR = 73 − 68 = 5
Langkah 4: Tentukan batas
Batas bawah = 68 − 1,5 × 5 = 68 − 7,5 = 60,5
Batas atas = 73 + 1,5 × 5 = 73 + 7,5 = 80,5
Langkah 5: Identifikasi outlier
Data < 60,5: 12 → OUTLIER
Data > 80,5: tidak ada
Kesimpulan: Nilai 12 adalah outlier. Perlu dikonfirmasi apakah siswa memang mendapat nilai 12 atau ada kesalahan pencatatan.
Kesimpulan: Ya, 175 adalah outlier menurut z-score karena z = 5,33 jauh melebihi batas 2.
| No | Nama | Kelas | Umur | Nilai |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Andi | 10 | 16 | 78 |
| 2 | Budi | 10 | 15 | — |
| 3 | Citra | 10 | 45 | 82 |
| 4 | Dani | 10 | 16 | 105 |
| 5 | Eka | — | 15 | 75 |
Masalah yang ditemukan:
1. Budi (No.2): Nilai hilang (missing data) — perlu dikumpulkan ulang
2. Citra (No.3): Umur 45 tahun — tidak wajar untuk siswa kelas 10 (mungkin salah catat, harusnya 15)
3. Dani (No.4): Nilai 105 — jika skala 0-100, maka tidak mungkin (kemungkinan salah catat)
4. Eka (No.5): Kelas hilang (missing data) — perlu dilengkapi
Jenis masalah: Missing data (2 kasus), data tidak wajar (2 kasus)
| Aspek | Outlier Kesalahan | Outlier Data Benar |
|---|---|---|
| Penyebab | Salah catat, salah ukur, salah input | Keunikan/keistimewaan objek |
| Contoh | Tinggi badan 350 cm (harusnya 150) | Gaji CEO Rp500 juta di antara karyawan bergaji Rp5-10 juta |
| Tindakan | Perbaiki atau hapus | Pertahankan, analisis pengaruhnya |
| Cara membedakan | Konfirmasi ke sumber data asli | |
Langkah 1: Urutkan: 3; 3,5; 3,6; 3,8; 3,9; 4; 4,1; 4,2; 4,5; 25
Langkah 2: Q₁ = median (3; 3,5; 3,6; 3,8; 3,9) = 3,6
Q₃ = median (4; 4,1; 4,2; 4,5; 25) = 4,2
Langkah 3: IQR = 4,2 − 3,6 = 0,6
Langkah 4: Batas bawah = 3,6 − 0,9 = 2,7
Batas atas = 4,2 + 0,9 = 5,1
Langkah 5: 25 > 5,1 → YA, outlier!
Ini bisa jadi data benar (penghasilan tinggi) atau salah catat (mungkin 2,5). Perlu konfirmasi.
Sulit
Metode IQR:
Urutkan: 45,46,47,47,48,48,48,49,49,50,50,51,51,52,95
n=15, Median = data ke-8 = 49
Q₁ = median(45,46,47,47,48,48,48) = 47
Q₃ = median(49,50,50,51,51,52,95) = 51
IQR = 51 − 47 = 4
Batas bawah = 47 − 6 = 41
Batas atas = 51 + 6 = 57
Data 95 > 57 → Outlier menurut IQR ✓
Metode Z-Score untuk data 95:
Kesimpulan: Kedua metode mengonfirmasi bahwa 95 kg adalah outlier. Untuk siswa SMA, berat 95 kg mungkin data benar (siswa gemuk) atau salah catat (harusnya 59 kg). Perlu verifikasi.
| No | Nama | JK | Umur | TB(cm) | BB(kg) | Gol.Darah |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Ani | P | 16 | 158 | 50 | A |
| 2 | Budi | L | 17 | 170 | — | B |
| 3 | Caca | — | 16 | 155 | 48 | O |
| 4 | Dodi | L | 116 | 175 | 65 | AB |
| 5 | Evi | P | 15 | 350 | 52 | A |
| 6 | Fani | P | 16 | 160 | 55 | X |
| 7 | Gani | L | 17 | 168 | 60 | B |
| 8 | Hana | P | 16 | 157 | -48 | O |
1. Missing Data (Data Hilang):
— No.2 Budi: BB tidak terisi
— No.3 Caca: Jenis kelamin tidak terisi
2. Data Tidak Wajar (Kewajaran):
— No.4 Dodi: Umur 116 tahun → tidak mungkin untuk siswa (mungkin harusnya 16)
— No.5 Evi: TB 350 cm → tidak mungkin (mungkin harusnya 150 cm)
— No.8 Hana: BB -48 kg → nilai negatif tidak mungkin (harusnya 48 kg)
3. Data Tidak Valid (Format):
— No.6 Fani: Golongan darah “X” → tidak ada golongan darah X (hanya A, B, AB, O)
4. Ringkasan:
— 2 kasus missing data
— 3 kasus data tidak wajar
— 1 kasus format tidak valid
— Total: 6 masalah dari 8 responden → kualitas data BURUK, perlu pengumpulan ulang
Penanganan Missing Data (15 data):
1. Opsi terbaik: Kumpulkan ulang dari responden
2. Jika tidak bisa:
— Gunakan imputasi rata-rata/median (ganti data kosong dengan rata-rata)
— Gunakan imputasi regresi (prediksi berdasarkan data lain)
— Hapus baris yang tidak lengkap (jika jumlahnya kecil)
3. Pertimbangan: 15 dari 100 = 15%. Jika > 20%, sebaiknya kumpulkan ulang karena imputasi bisa menimbulkan bias besar.
Penanganan Outlier (5 data):
1. Langkah pertama: Konfirmasi ke sumber → apakah data benar?
2. Jika kesalahan: Perbaiki atau hapus
3. Jika data benar:
— Pertahankan dan analisis pengaruhnya
— Gunakan statistik robust (median bukan mean) yang tidak terpengaruh outlier
— Laporkan analisis dengan dan tanpa outlier
Strategi keseluruhan: Data valid = 100 − 15 − 5 = 80 data. Jika setelah penanganan tersisa ≥ 80 data, masih cukup representatif.
Contoh kasus:
Data gaji karyawan (juta Rp): 5, 6, 5,5, 7, 6,5, 5, 6, 500, 5,5, 6
Tanpa pemeriksaan:
Rata-rata = (5+6+5,5+7+6,5+5+6+500+5,5+6)/10 = 552,5/10 = 55,25 juta
→ Kesimpulan SALAH: rata-rata gaji karyawan 55 juta!
Dengan pemeriksaan:
— Data 500 terdeteksi sebagai outlier (mungkin salah catat, harusnya 5,0 atau ini gaji direktur)
— Setelah diperbaiki menjadi 5,0:
Rata-rata = 57,5/10 = 5,75 juta → Kesimpulan BENAR
Dampak tanpa pemeriksaan:
— Rata-rata naik 10x lipat
— Kebijakan berdasarkan data salah bisa merugikan
— Misalnya: perusahaan menolak kenaikan gaji karena rata-rata “sudah tinggi”
100, 102, 98, 105, 101, 99, 103, 97, 100, 104, 15, 101, 99, 102, 100, 98, 103, 200, 101, 99.
Lakukan pemeriksaan lengkap: identifikasi outlier (IQR), hitung z-score untuk data mencurigakan, dan berikan rekomendasi!
Langkah 1: Urutkan
15, 97, 98, 98, 99, 99, 99, 100, 100, 100, 101, 101, 101, 102, 102, 103, 103, 104, 105, 200
Langkah 2: Kuartil (n=20)
Q₁ = median data ke 1-10 = (99+100)/2 = 99 (posisi 5,5)
Q₃ = median data ke 11-20 = (102+103)/2 = 102,5 (posisi 15,5)
Penyesuaian: Q₁ = data ke-5 dan ke-6 → (99+99)/2 = 99
Q₃ = data ke-15 dan ke-16 → (102+103)/2 = 102,5
Langkah 3: IQR = 102,5 − 99 = 3,5
Batas bawah = 99 − 5,25 = 93,75
Batas atas = 102,5 + 5,25 = 107,75
Langkah 4: Outlier
— 15 < 93,75 → Outlier bawah
— 200 > 107,75 → Outlier atas
Langkah 5: Z-Score (rata-rata tanpa outlier ≈ 100,6; s ≈ 2,2)
z(15) = (15 − 100,6)/2,2 ≈ −38,9 → Sangat jauh
z(200) = (200 − 100,6)/2,2 ≈ 45,2 → Sangat jauh
Rekomendasi:
— Nilai 15: Kemungkinan hari libur/mesin rusak, atau salah catat. Konfirmasi!
— Nilai 200: Tidak wajar (2x normal), mungkin salah catat (harusnya 100). Konfirmasi!
Latihan Soal — Pemeriksaan Data
Mudah
Sedang
| Responden | Usia | Pendidikan | Penghasilan(jt) |
|---|---|---|---|
| A | 25 | S1 | 5 |
| B | -3 | SMA | 3 |
| C | 30 | — | 7 |
| D | 28 | SD | 500 |
[…] •Pengumpulan, Pembulatan, dan Pemeriksaan Terhadap Data […]